Sejarah Pesantren Assalafiyyah

Penulis: Tim Redaksi - Niswatul Mumtaza · Dibuat: 02 Feb 2026
artikel
Sejarah Pesantren Assalafiyyah

Pondok Pesantren Assalafiyyah adalah pondok pesantren yang terletak di Mlangi,Nogotirto,Gamping,Sleman,Yogyakarta. Pondok ini dibangun oleh salah satu tokoh teladan yaitu Kiai Masduqi Zaed. Kiai Masduqi Zaed adalah anak ke 3 dari Kiai Zaed dan Nyai Zaed. Pada tahun 1930, yaitu setelah Kembali dari melanglang buana mencari ilmu dan menikah dengan Nyai Zaenab, putri Kiai Slamet, Kiai Masduqi untuk sementara tinggal dirumah mertua beliau di Mlangi. Seperti layaknya orang mlangi yang baru datang dari pondok, dirumah sang mertua Kiai Masduqi mulai mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak kampung mlangi yang datang ingin mengaji. Kegiatan mengajar Kiai Masduqi pada periode ini merupakan awal dari perjalanan Panjang beliau sebagai pengajar dan pendidik.

            Pada tahun 1932 , dua tahun sejak kepulangan beliau ke Mlangi, sang mertua menawarkan sepetak tanah miliknya dipojok Selatan kampung Mlangi untuk dijadikan tempat tinggal Kiai Masduqi dan tempat pengajian. Pada tahun yang sama, dimulailah Pembangunan rumah,langgar,serta beberapa kamar yang menjadi tempat tidur para santri ditanah warisan sang mertua tersebut. Pada awal berdirinya,rumah Kiai Masduqi hanya berupa beberapa ruangan kotak yang berdinding anyaman bambu ( gedhek) . baru pada tahun 1950-an sekitar 20 tahun setelah berdirinya , rumah tersebut secara bertahap diperbaiki sehingga berdinding tembok. Belum diketahui dengan pasti kapan rumah dan kompleks pondok tersebut selesai dibangun. Menurut ingatan Kiai syuja’i, beliau lahir pada tahun 1936 ketika keluarganya masih tinggal dirumah Kiai Slamet . Namun, pada tahun kelahiran beliau itu keluarganya pindah ke Selatan. Dengan dasar kepindahan keluarga kecil Kiai Masduqi kerumah barunya tersebut , besar kemungkinan Pembangunan kompleks Assalafiyyah selesai dengan ‘sempurna’ pada tahun 1936.

            Sejak dari awal berdirinya, langgar Kiai Masduqi telah didatangi beberapa santri yang juga menginap. Namun, hingga tahun-tahun berikutnya, tempat pengajian Kiai Masduqi tersebut belum memiliki nama. Karena langgar Kiai Masduqi terletak di Selatan kampung Mlangi, orang -orang sering menyebut langar tersebut sebagai langgar kidul. Selain itu, penamaan langgar kidul juga sebagai  pasangan langgar Kiai Siruddin yang terletak di bagian utara kampung Mlangi yang sering disebut langgar lor ( langgar utara). Langgar lor inilah yang kelak berubah nama menjadi pondok pesantren Al-Miftah.

            Setelah bertahun-tahun disebut sebagai langgar kidul, suatu Ketika Haji Najmuddin,seorang warga Mlangi dan salah satu murid Kiai Masduqi, mengusulkan agar langgar kidul lebih baik diberi nama layaknya pondok pesantren. Langgar kidul telah memenuhi kelengkapan unsur-unsur pondok pesantren ,seperti identifikasi klasik Zamakhsyari Dhofier,yaitu adanya pondok (tempat tinggal santri) , masjid,pengajian kitab-kitab klasik,santri,Kiai. Dengan dasar pikiran tersebut, Haji Najmuddin mengusulkan nama Assalafiyyah, sebuah nisbat yang berasal dari kata salafa yaslafu salafan yang berarti terdahulu atau kuno. Hal ini juga dilandasi visi misi mencetak generasi muslim yang mengapresiasi nilai-nilai ajaran ulama kuno. Sontak, kiai masduqi setuju dengan nama tersebut dengan harapan para santrinya memiliki keilmuan, akhlak dan derajat seperti para salaf al-shalih ( Ulama terdahulu yang shaleh ). Dengan disetujuinya nama tersebut, langgar kidul secara berubah nama menjadi pondok pesantren Assalafiyyah.

      Sebenarnya cukup sulit untuk mengetahui Sejarah lengkap pondok pesantren Assalafiyyah karena perlu penelitian lebih dalam dan wawancara alumni yang mewakili zaman mereka mondok. Untuk mempermudah memahami Sejarah Assalafiyyah , disini akan digunakan periodisasi yang disusun atas dasar kurikulum atau sistem Pendidikan yang bersinggungan dengan kepemimpinan yang ada di Assalafiyyah.

Dengan landasan berfikir diatas , Sejarah pondok pesantren Assalafiyyah bisa dibagi menjadi 4 periode : Assalafiyyah Awal, Model Tegalrejo, Semi-SKS, Dan Yayasan. Empat periode tersebut juga menandai empat kepemimpinan di Assalafiyyah yang secara berturut-turut adalah Kiai Masduqi, Kiai Salimi Mambaul Ulum, Kiai Syuja’I dan sekarang dipimpin oleh pengurus Yayasan Pondok Pesantren Assalafiyyah yang dikelola Bersama oleh putra-putri Kiai Syuja’i. Sejarah pondok pesantren Assalafiyyah memang selalu diiringi dengan perubahan kurikulum dan sistem Pendidikan. Berikut adalah  Sejarah “ ringkas” Assalafiyyah ditinjau dari kepemimpinan dan sistem Pendidikan yang berlaku :

1.Kiai Masduqi ( 1932-1966)

Pembagian pertama adalah periode awal yaitu mulai dari tahun 1932 hingga tahun 1966. Pada periode ini pengajian ditambah dengan Pelajaran ilmu alat karena Kiai Masduqi berfikir bahwa semenjak kedatangan santri dari luar Mlangi, perlu kiranya para santri tersebut diajarkan tentang ilmu membaca kitab. Namun demikian,meskipun bidang ilmu yang diajarkan bertambah, sistem Pendidikan yang berlaku masih sangat sederhana yaitu bandongan dan sorogan . Bandongan adalah sistem Pendidikan yang menggunakan metode Dimana seorang Kiai membacakan kitab dengan makna gandul utawi iki iku ala pesantren tradisional jawa sementara para santri mendengarkan dan memaknai kitabnya. Sedangkan  sorogan adalah sistem Pendidikan Dimana para santri membaca kitab di hadapan Kiai. Jika ada bacaan yang salah , maka Kiai akan meluruskannya.

Pada periode ini , belum dikenal pengajian kelas. Para santri yang mengaji hanya memilih guru mana yang membacakan kitab. Setelah selesai dari satu guru, maka santri tersebut pindah ke guru lain yang mengkaji kitab berbeda. Jika tidak demikian, sang gurulah yang akan mengubah kitab yang ia bacakan setelah menyelesaikan satu kitab. Jadi, Tingkat pengajian seorang santri berpatokan pada masa jenjang kitab dalam sebuah bidang ilmu (fan).

Pada masa ini , dilihat dari pengajarnya, pengajian bisa dibagi menjadi dua yaitu mengaji kepada Kiai Masduqi langsung daan mengaji kepada santri senior. Pengajian dengan Kiai Masduqi biasanya hanya pada jam-jam tertentu yang berbeda di setiap generasi . pada tahun 1950-an, misalnya, pengajian Kiai Masduqi yang umum dilaksanakan pada ba'da isya’. Selain isya’, beberapa santri yang kuat untuk melek bengi juga mengaji kepada Kiai Masduqi pada setengah akhir malam. Kitab-kitab yang diajarkan pada masa Kiai Masduqi pun cukup beragam , meskipun tidak selengkap pada masa-masa setelahnya. Pada tahun-tahun tersebut, sudah ada pengajian tafsir al-jalalain, fath al-mu’in dan alfiyah ibn malik.

Pada awalnya, bangunan pondok hanya terdiri dari 6 kamar yang terbuat dari gedhek (anyaman bambu) , sama seperti rumah Kiai Masduqi sendiri. Tanah pondok pun hanya sedikit, kira-kira bagian ndalem Gus Nur hingga ke Gedung utara serta bagian musala hingga ke jalan. Suatu Ketika , Kiai Mufid pernah berkomentar mengenai sempitnya pondok Kiai Masduqi, “ Bumine Rama Kiai Masduqi niku sempit , tapi manfaat .”

2.Kiai Salim Mambaul Ulum ( 1966-1978)

Periode selanjutnya berlangsung selama 12 tahun yaitu antara tahun 1966 hingga tahun 1978. Pada periode ini , kepemimpinan pondok pesantren Assalafiyyah dipegang oleh salah satu menantu Kiai Masduqi yaitu Kiai Salimi Mambaul Ulum. Beliau adalah lulusan dari Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo,Magelang . Mendapat Amanah sebagai pemimpin pondok, Kiai Salimi lantas mengubah kurikulum yang berlaku di pondok menjadi lebih tertata. Hal ini nampaknya beliau lakukan mengingat pondok pesantren sudah dianggap sebagai tempat untuk mendidik para pengajar agama. Dengan demikian, perlu diadakan semacam penataan kurikulum agar ilmu-ilmu yang didapat oleh para santri lebih lengkap dan didapat secara bertahap.

Pada era kepemimpinan beliau, sistem kurikulum di Assalafiyyah disamakan dengan apa yang diterapkan di API Tegalrejo. Sama seperti di Tegalrejo, Pondok Pesantren Assalafiyyah mulai menggunakan sistem Pendidikan yang membagi jenjang Pendidikan menurut kelas. Kelas yang disediakan mencakup 9 kelas yang setiap jenjangnya harus ditempuh selama 1 tahun. Jadi, total lama belajar santri jika dimulai dari awal hingga lulus adalah 9 tahun. Secara berurutan kelas-kelas tersebut adalah sifir ( I’dad),Ibtida’, jurumiyah, shorof, Alfiyah, Wahab, Mahalli, Bukhori, dan terakhir kelas ihya’. Penataan sistem Pendidikan yang baru ini membuat perubahan di Assalafiyyah. Dibanding periode sebelumnya terjadi peningkatan dalam jumlah santri yang mendaftar.

Penataan sistem Pendidikan tersebut juga diiringi dengan penciptaan tradisi-tradisi baru yang juga terpengaruh dari Tegalrejo. Diantara tradisi tersebut adalah membaca Alqur’an setelah shalat maghrib dan dilanjutkan dengan mujahadah beberapa wiridan yang bersumber dari ijazah Kiai Chudhori, pendiri API Tegalrejo. Selain tradisi rutinan seperti wiridan, pada masa ini Assalafiyyah juga mulai mengadakan khataman akhir tahun di setiap tanggal 20 sya’ban. Berbeda dengan zaman sebelumnya yang mengadakan khataman sangat sederhana , kali ini khataman pondok mulai dilakukan dengan mengundang tamu dan mendatangkan pembicara dari luar . khataman pertama Assalafiyyah diadakan dengan mengundang Kiai Mufid , pendiri pondok pesantren pandanaran. Ketika itu , Kiai Mufid masih tinggal di pondok mertuanya di krapyak.

Masa-masa diadakannya pengajian dengan sistem yang tersusun dengan metode Tegalrejo ini beriringan dengan usia Kiai Masduqi yang sudah menginjak usia kepala tujuh. Pada masa ini , Kiai Masduqi hanya mengajar sekali dalam sehari yaitu ba'da dzuhur. Kitab yang beliau ajarkan pun hanya dua yaitu sullam Taufiq dan dlurar al-bahiyyah, dua kitab tipis yang mengkaji ilmu fikih. Jika satu kitab selesai dikaji, Ganti kitab kedua. Begitu seterusnya diulang-ulang.

3. Kiai Syuja’I Masduqi ( 1978-2013)

Kiai Salimi menjabat sebagai pimpinan Assalafiyyah hingga tahun 1978. Setelah itu, kepemimpinan Assalafiyyah dipegang oleh putra satu-satunya Kiai Masduqi yaitu Kiai Syuja’I Masduqi. Dalam mengelola dan memimpin pondok , urusan dalam pondok juga dibantu oleh menantu beliau yaitu Kiai Hasan Abdullah , terutama sejak tahun 1991. Pada akhir periode ini , tepatnya tahun 2003, putra tertua Kiai Syuja’i yaitu Kiai Noor Hamid Majid juga turut membantu seiring kepulangan beliau dari pondok Lirboyo,Kediri.

Pada awalnya, Kiai Syuja’I yang juga merupakan lulusan Tegalrejo masih meneruskan sistem Pendidikan sebelumnya yaitu dengan model Tegalrejo. Selang beberapa waktu, sebelum meninggalnya Kiai Masduqi, santri Assalafiyyah mulai ada yang mengenyam Pendidikan di bangku Pendidikan tinggi ( universitas). Selain itu, ada juga para mahasiswa yang datang ke Yogyakarta untuk kuliah sekaligus mondok. Alhasil , santri Assalafiyyah kala itu mulai banyak yang menjadi mahasiswa. Jumlah tersebut semakin meningkat pada tahun berikutnya.

Kegiatan para santri yang juga terikat dengan sistem yang ada di universitas, membuat waktu mereka untuk belajar ilmu agama semakin sempit. Pendidikan secara tarbiyah yang perlahan-lahan dan harus ditempuh dalam waktu satu tahun, tidak lagi bisa efisien untuk memenuhi kebutuhan santri yang juga memiliki kewajiban diluar pondok. Hal ini disebabkan karena para santri yang sudah belajar ilmu tertentu , mau tidak mau harus belajar lagi mengingat ilmu tersebut telah terpaket dalam satu jenjang kelas. Gambarannya, misalnya seorang santri yang sudah belajar fath al-qarib dan belum belajar shorof . berhubung di Assalafiyyah kedua Pelajaran tersebut digabung dalam satu jenjang kelas, mau tidak mau santri tersebut harus mengikuti pelajaran fath al-qarib lagi. Melihat kondisi internal dan eksternal tersebut, pada tahun 1985 sistem pendidikan di Assalafiyyah diganti menjadi sistem SKS. Sistem ini meniru sistem yang diterapkan di perguruan tinggi. Artinya, Pelajaran-pelajaran yang disediakan pondok bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan santri. Santri yang lulus pada Pelajaran ‘imrithi, misalnya,dan belum lulus Pelajaran fath al-mu’in , bisa menaikkan Tingkat pelajarannya hanya dalam kitab ‘imrithi saja , tanpa mengulang kitab yang lain. Sistem ini sekilas mirip dengan sistem yang berlaku sebelumnya di periode Kiai Masduqi. Bedanya, pada masa ini , kitab-kitab yang akan dipelajari sudah tersusun sesuai dengan Tingkat kesulitannya. Jadi, para  qori’ tidak bisa lagi memilih kitab yang akan mereka bacakan melainkan harus sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh pondok. Selain itu, para santri dalam memilih Pelajaran yang akan diikuti juga harus sesuai dengan urutan yang telah disediakan. Seorang santri yang belum lulus ‘imrithi, misalnya, belum bisa mengambil mata Pelajaran Alfiyah ibn Malik.

Selain terdapat pembaruan dalam sistem Pendidikan, Pelajaran yang diberikan juga mulai beragam. Terdapat tambahan Pelajaran seperti qawa’id al-fiqh,ushul al-fiqh dan balaghah. Kitab-kitab yang dipelajari juga tidak hanya model kitab tradisional, melainkan juga mulai ditambahkan dengan menggunakan metode baru yaitu manhaji. Dalam mempelajari kitab-kitab baru tersebut, juga digunakan sistem pengajaran yang lebih modern yaitu pengkajian untuk pemahaman kitab, pencarian dasar dalil, hingga ke kritik beberapa pendapat yang terdapat dalam sebuah kitab. Semua model pembelajaran tersebut,dilakukan dengan sistem musyawarah. Dengan dilakukannya model pembelajaran seperti disebut di atas, akan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif sehingga para santri direncanakan akan siap untuk menghadapi Masyarakat.

Sistem Pendidikan yang diterapkan pada periode ini nampaknya cukup efektif menjawab kebutuhan para santri. Pada periode ini terjadi peningkatan jumlah santri yang masuk ke Assalafiyyah. Dibanding masa sebelumnya,rentang waktu dari tahun1983 atau dua tahun setelah meninggalnya Kiai Masduqi hingga tahun 2002, jumlah santri yang mendaftar di Assalafiyyah mengalami peningkatan. Tentu selain perubahan sistem Pendidikan mungkin juga terdapat faktor lain yang bisa dijadikan alasan meningkatnya jumlah santri yang mendaftar di Assalafiyyah. Selain mengubah sistem, pada periode ini juga terjadi Pembangunan pondok putri pada tahun 1982.

Seiring kepulangan Nyai Daviniatul Ulum dan setelah pernikahannya dengan Kiai Hasan,pada tahun 1993 di Assalafiyyah mulai diadakan program tahfidz al-qur’an . program yang awalnya diikuti oleh para santri putri tersebut beberapa tahun kemudian juga diikuti oleh santri putra yang juga menyetor hafalan kepada Nyai Davin. Para santri putra berhenti menyetor hafalan mereka kepada Nyai Davin bari dilakukan setelah kepulangan Kiai Noor Hamid Madjid yang juga sebagai hafidz al-qur’an. Hingga saat ini, program tahfidz al-qur’an masih berlangsung di Assalafiyyah dengan Nyai Davin sebagai tempat setoran para santri putri dan Kiai Noor Hamid sebagai tempat menyetor hafalan santri putra.

4. Yayasan Assalafiyyah ( 2013-sekarang)

Perkembangan terakhir dari pondok pesantren Assalafiyyah terjadi pada tahun 2013 yaitu dengan didirikannya Pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalafiyyah. Pendirian ini disebabkan oleh beberapa persoalan santri Assalafiyyah yang bersekolah di lua lingkungan pondok. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah ketidaksesuaian antara program pondok dan program sekolah misalnya, pihak sekolah mengharuskan para siswa mengikuti kegiatan ekstra di sore hari. Sementara itu, keikutsertaan santri dalam kegiatan ekstra tentunya akan mengganggu pengajian mereka di pondok.

Selain itu, juga ada beberapa persoalan yang disebabkan oleh persinggungan santri pelajar dengan dunia luar yang semakin mengkhawatirkan akibat pergaulan bebas. Persoalan tersebut misalnya dengan keluarnya santri dari pondok, akses santri untuk dolan dan kabur semakin besar. Selain itu, efek negatif dari pergaulan santri dengan dunia luar juga beberapa kali dialami oleh santri Assalafiyyah seperti tawuran dan lain sebagainya. Inti adri persoalan tersebut adalah pihak pondok kesulitan untuk mengontrol para santri pelajar, bak itu menyangkut masalah keamanan dan ketertiban para santri atau yang berkaitan dengan Pendidikan formal.

Selain itu, pendirian sekolah yang mengajarkan “ ilmu umum “ didasari oleh nasihat Kiai Masduqi tentang perlunya penyesuaian sistem Pendidikan pondok dengan Masyarakat yang akan dihadapi Ketika pulang. Dari pengamatan pihak keluarga, Masyarakat saat ini telah membutuhkan para santri yang memiliki kemampuan multidimensi. Penguasan ilmu agama, misalnya, harus dibarengi dengan penguasaan ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, Sejarah dan sastra agar dalam berdakwah menyampaikan pesan-pesan agama, para santri terlebih dahulu bisa memahami karakter Masyarakat yang dihadapi. Hal ini belum lagi mengenai perkembangan lain di bidang sciene yang sangat cepat. Sebagai Gambaran,misalnya, pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, ancaman bagi manusia bukan hanya robot yang merebut pekerjaan-pekerjaan besar manusia di bidang industri atau yang dikenal sebagai otomatisasi, akan tetapi dengan semakin berkembangnya kecerdasan buatan atau AI ( Artificial Intelligence ) , robot sudah mulai menyentuh pekerjaan-pekerjaan yang dahulu dianggap milik manusia semata seperti menghitung, membuat berita dan kemampuan berfikir lainnya.

Latar belakang inilah yang menjadikan pihak keluarga ndalem akhirnya memutuskan untuk mendirikan Pendidikan umum yang formal di Assalafiyyah. Tepat pada 10 agustus 2012, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalafiyyah didirikan. Satu tahun kemudian , tepatnya pada 28 maret 2013, menyusul didirikan Madrasah Aliyah (MA) Assalafiyyah. Empat tahun kemudian, dibangun juga Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) Assalafiyyah yang bermula pada jurusan multimedia. Semua unit Pendidikan tersebut dan juga pondok pesantren takhassus, terwadahkan dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren Assalafiyyah.

Pada tahun-tahun pertamanya, kegiatan madrasah masih dilakukan di kompleks induk Assalafiyyah. Namun, pada tahun 2014, sebidang tanah di pojok timur kampung Mlangi menjadi tempat didirikannya kompleks madrasah Assalafiyyah. Pada kompleks tersebut lantas juga dibangun asrama putri yang sekolah di madrasah. Karena berbeda tempat dengan pondok Assalafiyyah induknya, juga karena dalam kompleks pondok yang baru tersebut terdapat sekolah sekaligus asrama, maka kompleks baru tersebut diberi nama Pondok Pesantren Assalafiyyah II Terpadu.

Bertambahnya kompleks baru tersebut menjadikan kepengurusan Assalafiyyah menjadi berbeda. Pada pertengahan berdirinya madrasah, pengelolaan penempatan santri dibagi menjadi 4 kompleks yaitu kompleks takhassus putra dan putri, yang terdiri dari santri mahasiswa, santri kerja, dan santri takhassus ( hanya mondok ). Kompleks madrasah putra yang terletak di bagian belakang Assalafiyyah induk. Dan terakhir adalah kompleks madrasah putri yang terletak di Assalafiyyah II. Kepemimpinan masing-masing kompleks adalah Kiai Hasan (takhassus putra dan putri), Kiai Noor Hamid Madjid (madrasah putra) dan Kiai Irwan Masduqi (madrasah putri). Namun demikian, penentu Keputusan segala urusan yang berkaitan dengan pondok tetap berada di bawah musyawarah bersama pengurus Yayasan Pondok Pesantren Assalafiyyah dan tentu juga di bawah restu pengasuh pondok, yaitu Kiai Syuja’i Masduqi.

Informasi Artikel

Penulis
Tim Redaksi - Niswatul Mumtaza

Dibuat
02 Feb 2026