Pondok
Pesantren Assalafiyyah adalah pondok pesantren yang terletak di
Mlangi,Nogotirto,Gamping,Sleman,Yogyakarta. Pondok ini dibangun oleh salah satu
tokoh teladan yaitu Kiai Masduqi Zaed. Kiai Masduqi Zaed adalah anak ke 3 dari
Kiai Zaed dan Nyai Zaed. Pada tahun 1930, yaitu setelah Kembali dari melanglang
buana mencari ilmu dan menikah dengan Nyai Zaenab, putri Kiai Slamet, Kiai
Masduqi untuk sementara tinggal dirumah mertua beliau di Mlangi. Seperti
layaknya orang mlangi yang baru datang dari pondok, dirumah sang mertua Kiai
Masduqi mulai mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak kampung mlangi yang
datang ingin mengaji. Kegiatan mengajar Kiai Masduqi pada periode ini merupakan
awal dari perjalanan Panjang beliau sebagai pengajar dan pendidik.
Pada
tahun 1932 , dua tahun sejak kepulangan beliau ke Mlangi, sang mertua
menawarkan sepetak tanah miliknya dipojok Selatan kampung Mlangi untuk
dijadikan tempat tinggal Kiai Masduqi dan tempat pengajian. Pada tahun yang
sama, dimulailah Pembangunan rumah,langgar,serta beberapa kamar yang menjadi
tempat tidur para santri ditanah warisan sang mertua tersebut. Pada awal
berdirinya,rumah Kiai Masduqi hanya berupa beberapa ruangan kotak yang
berdinding anyaman bambu ( gedhek) . baru pada tahun 1950-an sekitar 20
tahun setelah berdirinya , rumah tersebut secara bertahap diperbaiki sehingga
berdinding tembok. Belum diketahui dengan pasti kapan rumah dan kompleks pondok
tersebut selesai dibangun. Menurut ingatan Kiai syuja’i, beliau lahir pada
tahun 1936 ketika keluarganya masih tinggal dirumah Kiai Slamet . Namun, pada
tahun kelahiran beliau itu keluarganya pindah ke Selatan. Dengan dasar
kepindahan keluarga kecil Kiai Masduqi kerumah barunya tersebut , besar
kemungkinan Pembangunan kompleks Assalafiyyah selesai dengan ‘sempurna’ pada
tahun 1936.
Sejak
dari awal berdirinya, langgar Kiai Masduqi telah didatangi beberapa santri yang
juga menginap. Namun, hingga tahun-tahun berikutnya, tempat pengajian Kiai
Masduqi tersebut belum memiliki nama. Karena langgar Kiai Masduqi terletak di
Selatan kampung Mlangi, orang -orang sering menyebut langar tersebut sebagai
langgar kidul. Selain itu, penamaan langgar kidul juga sebagai pasangan langgar Kiai Siruddin yang terletak
di bagian utara kampung Mlangi yang sering disebut langgar lor ( langgar
utara). Langgar lor inilah yang kelak berubah nama menjadi pondok
pesantren Al-Miftah.
Setelah
bertahun-tahun disebut sebagai langgar kidul, suatu Ketika Haji
Najmuddin,seorang warga Mlangi dan salah satu murid Kiai Masduqi, mengusulkan
agar langgar kidul lebih baik diberi nama layaknya pondok pesantren. Langgar
kidul telah memenuhi kelengkapan unsur-unsur pondok pesantren ,seperti
identifikasi klasik Zamakhsyari Dhofier,yaitu adanya pondok (tempat tinggal
santri) , masjid,pengajian kitab-kitab klasik,santri,Kiai. Dengan dasar pikiran
tersebut, Haji Najmuddin mengusulkan nama Assalafiyyah, sebuah nisbat yang
berasal dari kata salafa yaslafu salafan yang berarti terdahulu atau
kuno. Hal ini juga dilandasi visi misi mencetak generasi muslim yang
mengapresiasi nilai-nilai ajaran ulama kuno. Sontak, kiai masduqi setuju dengan
nama tersebut dengan harapan para santrinya memiliki keilmuan, akhlak dan derajat
seperti para salaf al-shalih ( Ulama terdahulu yang shaleh ). Dengan
disetujuinya nama tersebut, langgar kidul secara berubah nama menjadi
pondok pesantren Assalafiyyah.
Sebenarnya cukup sulit untuk mengetahui
Sejarah lengkap pondok pesantren Assalafiyyah karena perlu penelitian lebih
dalam dan wawancara alumni yang mewakili zaman mereka mondok. Untuk mempermudah
memahami Sejarah Assalafiyyah , disini akan digunakan periodisasi yang disusun
atas dasar kurikulum atau sistem Pendidikan yang bersinggungan dengan
kepemimpinan yang ada di Assalafiyyah.
Dengan
landasan berfikir diatas , Sejarah pondok pesantren Assalafiyyah bisa dibagi
menjadi 4 periode : Assalafiyyah Awal, Model Tegalrejo, Semi-SKS, Dan Yayasan.
Empat periode tersebut juga menandai empat kepemimpinan di Assalafiyyah yang
secara berturut-turut adalah Kiai Masduqi, Kiai Salimi Mambaul Ulum, Kiai
Syuja’I dan sekarang dipimpin oleh pengurus Yayasan Pondok Pesantren
Assalafiyyah yang dikelola Bersama oleh putra-putri Kiai Syuja’i. Sejarah
pondok pesantren Assalafiyyah memang selalu diiringi dengan perubahan kurikulum
dan sistem Pendidikan. Berikut adalah
Sejarah “ ringkas” Assalafiyyah ditinjau dari kepemimpinan dan sistem
Pendidikan yang berlaku :
1.Kiai Masduqi (
1932-1966)
Pembagian
pertama adalah periode awal yaitu mulai dari tahun 1932 hingga tahun 1966. Pada
periode ini pengajian ditambah dengan Pelajaran ilmu alat karena Kiai Masduqi
berfikir bahwa semenjak kedatangan santri dari luar Mlangi, perlu kiranya para
santri tersebut diajarkan tentang ilmu membaca kitab. Namun demikian,meskipun
bidang ilmu yang diajarkan bertambah, sistem Pendidikan yang berlaku masih
sangat sederhana yaitu bandongan dan sorogan . Bandongan adalah
sistem Pendidikan yang menggunakan metode Dimana seorang Kiai membacakan kitab
dengan makna gandul utawi iki iku ala pesantren tradisional jawa
sementara para santri mendengarkan dan memaknai kitabnya. Sedangkan sorogan adalah sistem Pendidikan Dimana
para santri membaca kitab di hadapan Kiai. Jika ada bacaan yang salah , maka
Kiai akan meluruskannya.
Pada
periode ini , belum dikenal pengajian kelas. Para santri yang mengaji hanya
memilih guru mana yang membacakan kitab. Setelah selesai dari satu guru, maka
santri tersebut pindah ke guru lain yang mengkaji kitab berbeda. Jika tidak
demikian, sang gurulah yang akan mengubah kitab yang ia bacakan setelah
menyelesaikan satu kitab. Jadi, Tingkat pengajian seorang santri berpatokan
pada masa jenjang kitab dalam sebuah bidang ilmu (fan).
Pada
masa ini , dilihat dari pengajarnya, pengajian bisa dibagi menjadi dua yaitu
mengaji kepada Kiai Masduqi langsung daan mengaji kepada santri senior.
Pengajian dengan Kiai Masduqi biasanya hanya pada jam-jam tertentu yang berbeda
di setiap generasi . pada tahun 1950-an, misalnya, pengajian Kiai Masduqi yang
umum dilaksanakan pada ba'da isya’. Selain isya’, beberapa santri yang kuat
untuk melek bengi juga mengaji kepada Kiai Masduqi pada setengah akhir
malam. Kitab-kitab yang diajarkan pada masa Kiai Masduqi pun cukup beragam ,
meskipun tidak selengkap pada masa-masa setelahnya. Pada tahun-tahun tersebut,
sudah ada pengajian tafsir al-jalalain, fath al-mu’in dan alfiyah ibn malik.
Pada
awalnya, bangunan pondok hanya terdiri dari 6 kamar yang terbuat dari gedhek
(anyaman bambu) , sama seperti rumah Kiai Masduqi sendiri. Tanah pondok pun
hanya sedikit, kira-kira bagian ndalem Gus Nur hingga ke Gedung utara serta
bagian musala hingga ke jalan. Suatu Ketika , Kiai Mufid pernah berkomentar
mengenai sempitnya pondok Kiai Masduqi, “ Bumine Rama Kiai Masduqi niku
sempit , tapi manfaat .”
2.Kiai Salim
Mambaul Ulum ( 1966-1978)
Periode
selanjutnya berlangsung selama 12 tahun yaitu antara tahun 1966 hingga tahun
1978. Pada periode ini , kepemimpinan pondok pesantren Assalafiyyah dipegang
oleh salah satu menantu Kiai Masduqi yaitu Kiai Salimi Mambaul Ulum. Beliau
adalah lulusan dari Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo,Magelang . Mendapat
Amanah sebagai pemimpin pondok, Kiai Salimi lantas mengubah kurikulum yang
berlaku di pondok menjadi lebih tertata. Hal ini nampaknya beliau lakukan
mengingat pondok pesantren sudah dianggap sebagai tempat untuk mendidik para
pengajar agama. Dengan demikian, perlu diadakan semacam penataan kurikulum agar
ilmu-ilmu yang didapat oleh para santri lebih lengkap dan didapat secara
bertahap.
Pada
era kepemimpinan beliau, sistem kurikulum di Assalafiyyah disamakan dengan apa
yang diterapkan di API Tegalrejo. Sama seperti di Tegalrejo, Pondok Pesantren
Assalafiyyah mulai menggunakan sistem Pendidikan yang membagi jenjang
Pendidikan menurut kelas. Kelas yang disediakan mencakup 9 kelas yang setiap
jenjangnya harus ditempuh selama 1 tahun. Jadi, total lama belajar santri jika
dimulai dari awal hingga lulus adalah 9 tahun. Secara berurutan kelas-kelas
tersebut adalah sifir ( I’dad),Ibtida’, jurumiyah, shorof, Alfiyah, Wahab,
Mahalli, Bukhori, dan terakhir kelas ihya’. Penataan sistem Pendidikan yang
baru ini membuat perubahan di Assalafiyyah. Dibanding periode sebelumnya
terjadi peningkatan dalam jumlah santri yang mendaftar.
Penataan
sistem Pendidikan tersebut juga diiringi dengan penciptaan tradisi-tradisi baru
yang juga terpengaruh dari Tegalrejo. Diantara tradisi tersebut adalah membaca
Alqur’an setelah shalat maghrib dan dilanjutkan dengan mujahadah beberapa
wiridan yang bersumber dari ijazah Kiai Chudhori, pendiri API Tegalrejo. Selain
tradisi rutinan seperti wiridan, pada masa ini Assalafiyyah juga mulai
mengadakan khataman akhir tahun di setiap tanggal 20 sya’ban. Berbeda dengan
zaman sebelumnya yang mengadakan khataman sangat sederhana , kali ini khataman
pondok mulai dilakukan dengan mengundang tamu dan mendatangkan pembicara dari
luar . khataman pertama Assalafiyyah diadakan dengan mengundang Kiai Mufid ,
pendiri pondok pesantren pandanaran. Ketika itu , Kiai Mufid masih tinggal di
pondok mertuanya di krapyak.
Masa-masa
diadakannya pengajian dengan sistem yang tersusun dengan metode Tegalrejo ini
beriringan dengan usia Kiai Masduqi yang sudah menginjak usia kepala tujuh.
Pada masa ini , Kiai Masduqi hanya mengajar sekali dalam sehari yaitu ba'da
dzuhur. Kitab yang beliau ajarkan pun hanya dua yaitu sullam Taufiq dan dlurar
al-bahiyyah, dua kitab tipis yang mengkaji ilmu fikih. Jika satu kitab
selesai dikaji, Ganti kitab kedua. Begitu seterusnya diulang-ulang.
3. Kiai Syuja’I
Masduqi ( 1978-2013)
Kiai
Salimi menjabat sebagai pimpinan Assalafiyyah hingga tahun 1978. Setelah itu,
kepemimpinan Assalafiyyah dipegang oleh putra satu-satunya Kiai Masduqi yaitu
Kiai Syuja’I Masduqi. Dalam mengelola dan memimpin pondok , urusan dalam pondok
juga dibantu oleh menantu beliau yaitu Kiai Hasan Abdullah , terutama sejak
tahun 1991. Pada akhir periode ini , tepatnya tahun 2003, putra tertua Kiai
Syuja’i yaitu Kiai Noor Hamid Majid juga turut membantu seiring kepulangan
beliau dari pondok Lirboyo,Kediri.
Pada
awalnya, Kiai Syuja’I yang juga merupakan lulusan Tegalrejo masih meneruskan
sistem Pendidikan sebelumnya yaitu dengan model Tegalrejo. Selang beberapa
waktu, sebelum meninggalnya Kiai Masduqi, santri Assalafiyyah mulai ada yang
mengenyam Pendidikan di bangku Pendidikan tinggi ( universitas). Selain itu,
ada juga para mahasiswa yang datang ke Yogyakarta untuk kuliah sekaligus
mondok. Alhasil , santri Assalafiyyah kala itu mulai banyak yang menjadi
mahasiswa. Jumlah tersebut semakin meningkat pada tahun berikutnya.
Kegiatan
para santri yang juga terikat dengan sistem yang ada di universitas, membuat
waktu mereka untuk belajar ilmu agama semakin sempit. Pendidikan secara tarbiyah
yang perlahan-lahan dan harus ditempuh dalam waktu satu tahun, tidak lagi bisa
efisien untuk memenuhi kebutuhan santri yang juga memiliki kewajiban diluar
pondok. Hal ini disebabkan karena para santri yang sudah belajar ilmu tertentu
, mau tidak mau harus belajar lagi mengingat ilmu tersebut telah terpaket dalam
satu jenjang kelas. Gambarannya, misalnya seorang santri yang sudah belajar fath
al-qarib dan belum belajar shorof . berhubung di Assalafiyyah kedua
Pelajaran tersebut digabung dalam satu jenjang kelas, mau tidak mau santri
tersebut harus mengikuti pelajaran fath al-qarib lagi. Melihat kondisi
internal dan eksternal tersebut, pada tahun 1985 sistem pendidikan di
Assalafiyyah diganti menjadi sistem SKS. Sistem ini meniru sistem yang
diterapkan di perguruan tinggi. Artinya, Pelajaran-pelajaran yang disediakan
pondok bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan santri. Santri yang lulus pada
Pelajaran ‘imrithi, misalnya,dan belum lulus Pelajaran fath al-mu’in
, bisa menaikkan Tingkat pelajarannya hanya dalam kitab ‘imrithi saja
, tanpa mengulang kitab yang lain. Sistem ini sekilas mirip dengan sistem yang
berlaku sebelumnya di periode Kiai Masduqi. Bedanya, pada masa ini ,
kitab-kitab yang akan dipelajari sudah tersusun sesuai dengan Tingkat
kesulitannya. Jadi, para qori’
tidak bisa lagi memilih kitab yang akan mereka bacakan melainkan harus sesuai
dengan apa yang ditugaskan oleh pondok. Selain itu, para santri dalam memilih
Pelajaran yang akan diikuti juga harus sesuai dengan urutan yang telah
disediakan. Seorang santri yang belum lulus ‘imrithi, misalnya, belum
bisa mengambil mata Pelajaran Alfiyah ibn Malik.
Selain
terdapat pembaruan dalam sistem Pendidikan, Pelajaran yang diberikan juga mulai
beragam. Terdapat tambahan Pelajaran seperti qawa’id al-fiqh,ushul al-fiqh dan
balaghah. Kitab-kitab yang dipelajari juga tidak hanya model kitab
tradisional, melainkan juga mulai ditambahkan dengan menggunakan metode baru
yaitu manhaji. Dalam mempelajari kitab-kitab baru tersebut, juga
digunakan sistem pengajaran yang lebih modern yaitu pengkajian untuk pemahaman
kitab, pencarian dasar dalil, hingga ke kritik beberapa pendapat yang terdapat
dalam sebuah kitab. Semua model pembelajaran tersebut,dilakukan dengan sistem
musyawarah. Dengan dilakukannya model pembelajaran seperti disebut di atas,
akan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif sehingga para santri
direncanakan akan siap untuk menghadapi Masyarakat.
Sistem
Pendidikan yang diterapkan pada periode ini nampaknya cukup efektif menjawab
kebutuhan para santri. Pada periode ini terjadi peningkatan jumlah santri yang
masuk ke Assalafiyyah. Dibanding masa sebelumnya,rentang waktu dari tahun1983
atau dua tahun setelah meninggalnya Kiai Masduqi hingga tahun 2002, jumlah
santri yang mendaftar di Assalafiyyah mengalami peningkatan. Tentu selain
perubahan sistem Pendidikan mungkin juga terdapat faktor lain yang bisa
dijadikan alasan meningkatnya jumlah santri yang mendaftar di Assalafiyyah.
Selain mengubah sistem, pada periode ini juga terjadi Pembangunan pondok putri
pada tahun 1982.
Seiring
kepulangan Nyai Daviniatul Ulum dan setelah pernikahannya dengan Kiai
Hasan,pada tahun 1993 di Assalafiyyah mulai diadakan program tahfidz
al-qur’an . program yang awalnya diikuti oleh para santri putri tersebut
beberapa tahun kemudian juga diikuti oleh santri putra yang juga menyetor
hafalan kepada Nyai Davin. Para santri putra berhenti menyetor hafalan mereka
kepada Nyai Davin bari dilakukan setelah kepulangan Kiai Noor Hamid Madjid yang
juga sebagai hafidz al-qur’an. Hingga saat ini, program tahfidz
al-qur’an masih berlangsung di Assalafiyyah dengan Nyai Davin sebagai
tempat setoran para santri putri dan Kiai Noor Hamid sebagai tempat menyetor
hafalan santri putra.
4. Yayasan
Assalafiyyah ( 2013-sekarang)
Perkembangan
terakhir dari pondok pesantren Assalafiyyah terjadi pada tahun 2013 yaitu
dengan didirikannya Pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalafiyyah.
Pendirian ini disebabkan oleh beberapa persoalan santri Assalafiyyah yang
bersekolah di lua lingkungan pondok. Masalah-masalah tersebut diantaranya
adalah ketidaksesuaian antara program pondok dan program sekolah misalnya,
pihak sekolah mengharuskan para siswa mengikuti kegiatan ekstra di sore hari.
Sementara itu, keikutsertaan santri dalam kegiatan ekstra tentunya akan
mengganggu pengajian mereka di pondok.
Selain
itu, juga ada beberapa persoalan yang disebabkan oleh persinggungan santri
pelajar dengan dunia luar yang semakin mengkhawatirkan akibat pergaulan bebas.
Persoalan tersebut misalnya dengan keluarnya santri dari pondok, akses santri
untuk dolan dan kabur semakin besar. Selain itu, efek negatif dari
pergaulan santri dengan dunia luar juga beberapa kali dialami oleh santri
Assalafiyyah seperti tawuran dan lain sebagainya. Inti adri persoalan tersebut
adalah pihak pondok kesulitan untuk mengontrol para santri pelajar, bak itu
menyangkut masalah keamanan dan ketertiban para santri atau yang berkaitan
dengan Pendidikan formal.
Selain
itu, pendirian sekolah yang mengajarkan “ ilmu umum “ didasari oleh nasihat
Kiai Masduqi tentang perlunya penyesuaian sistem Pendidikan pondok dengan
Masyarakat yang akan dihadapi Ketika pulang. Dari pengamatan pihak keluarga,
Masyarakat saat ini telah membutuhkan para santri yang memiliki kemampuan
multidimensi. Penguasan ilmu agama, misalnya, harus dibarengi dengan penguasaan
ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, Sejarah dan sastra agar dalam
berdakwah menyampaikan pesan-pesan agama, para santri terlebih dahulu bisa
memahami karakter Masyarakat yang dihadapi. Hal ini belum lagi mengenai
perkembangan lain di bidang sciene yang sangat cepat. Sebagai
Gambaran,misalnya, pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, ancaman bagi
manusia bukan hanya robot yang merebut pekerjaan-pekerjaan besar manusia di
bidang industri atau yang dikenal sebagai otomatisasi, akan tetapi dengan semakin
berkembangnya kecerdasan buatan atau AI ( Artificial Intelligence ) ,
robot sudah mulai menyentuh pekerjaan-pekerjaan yang dahulu dianggap milik
manusia semata seperti menghitung, membuat berita dan kemampuan berfikir
lainnya.
Latar
belakang inilah yang menjadikan pihak keluarga ndalem akhirnya
memutuskan untuk mendirikan Pendidikan umum yang formal di Assalafiyyah. Tepat
pada 10 agustus 2012, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalafiyyah didirikan. Satu
tahun kemudian , tepatnya pada 28 maret 2013, menyusul didirikan Madrasah
Aliyah (MA) Assalafiyyah. Empat tahun kemudian, dibangun juga Sekolah Menengah
Kejurusan (SMK) Assalafiyyah yang bermula pada jurusan multimedia. Semua unit
Pendidikan tersebut dan juga pondok pesantren takhassus, terwadahkan
dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren Assalafiyyah.
Pada
tahun-tahun pertamanya, kegiatan madrasah masih dilakukan di kompleks induk
Assalafiyyah. Namun, pada tahun 2014, sebidang tanah di pojok timur kampung
Mlangi menjadi tempat didirikannya kompleks madrasah Assalafiyyah. Pada
kompleks tersebut lantas juga dibangun asrama putri yang sekolah di madrasah.
Karena berbeda tempat dengan pondok Assalafiyyah induknya, juga karena dalam
kompleks pondok yang baru tersebut terdapat sekolah sekaligus asrama, maka
kompleks baru tersebut diberi nama Pondok Pesantren Assalafiyyah II Terpadu.
Bertambahnya kompleks baru tersebut menjadikan kepengurusan Assalafiyyah menjadi berbeda. Pada pertengahan berdirinya madrasah, pengelolaan penempatan santri dibagi menjadi 4 kompleks yaitu kompleks takhassus putra dan putri, yang terdiri dari santri mahasiswa, santri kerja, dan santri takhassus ( hanya mondok ). Kompleks madrasah putra yang terletak di bagian belakang Assalafiyyah induk. Dan terakhir adalah kompleks madrasah putri yang terletak di Assalafiyyah II. Kepemimpinan masing-masing kompleks adalah Kiai Hasan (takhassus putra dan putri), Kiai Noor Hamid Madjid (madrasah putra) dan Kiai Irwan Masduqi (madrasah putri). Namun demikian, penentu Keputusan segala urusan yang berkaitan dengan pondok tetap berada di bawah musyawarah bersama pengurus Yayasan Pondok Pesantren Assalafiyyah dan tentu juga di bawah restu pengasuh pondok, yaitu Kiai Syuja’i Masduqi.