Puasa Yang dimakruhkan

Puasa Yang dimakruhkan

Macam – macam puasa yang dimakruhkan

Berpuasa menjadi sebuah kewajiban bagi semua umat islam saat ramadhan tiba. Meski begitu ada beberapa jenis puasa wajib lain seperti puasa nazar.
Selain puasa wajib, ada juga puasa sunnah seperti puasa senin senin-kamis, syawal, dawud, mutlak, dan lain sebagainya. Keutamaan dan pahala berpuasa akan membuat kita mendapat pahala yang tak terhingga.

Meski puasa bersifat mulia, beberapa jenis puasa ternyata dinilai makruh bahkan haram. Beberapa puasa yang makruh akibat waktu pelaksanaan maupun kondisi seseorang yang melaksanakannya.

Kaitan dengan ini, Syekh Abu Al-Hasan Bin Al-Muhamili dalam Kitab AL-Lubab menjelaskan ada 10 puasa yang dimakruhkan :

وأما المكروه من الصوم فعشرة صوم المريض، والمسافر، والحامل، والمرضع، والشيخ الفاني إذا خافوا المشقّة الشديدة، وصوم يوم الشّك، والنصف الأخير من شعبان إلا لمن صام الشهر كلّه أو كانت له عادة، وصوم يوم عرفة للحاج، وأن يتطوّع بالصوم وعليه صوم رمضان، وصوم يوم الجمعة منفرد

Artinya, “Adapun puasa yang dimakruhkan ada sepuluh, yaitu (1) puasa orang sakit, (2) puasa orang yang sedang berpergian jauh, (3) puasa Perempuan hamil, (4) puasa Perempuan yang sedang menyusui, (5) puasa orang yang sudah sangat renta dan khawatir ada bahaya yang cukup cerat, (6) puasa pada hari syakk atau diragukan dan puasa pada separuh terakhir bulan Sya’ban kecuali bagi orang yang berpuasa dalam semua bulan tersebut atau sudah terbiasa puasa sebelumnya, (7) puasa pada hari Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji, (9) puasa sunnah bagi orang yang masih memiliki kewajiban qadha puasa ramadhan, (10) puasa hari jumat secara terpisah.”
(Abu Al-Hasan bin Al-Muhamili, al-Lubab fil Fiqhi asy-Syafi’I, [Madinah: Darul Bukhari], 1416 H, jilid 1, halaman 190).

Seperti yang disinggung diatas, penyebab makruh bisa karena orang yang melakukannya, bisa juga waktu pelaksanaannya. Berdasarkan kutipan di atas, puasa orang sakit, orang yang berpergian, puasa Perempuan hamil dan menyusui, serta puasa orang yang sudah renta, baik hukum asal puasanya wajib seperti puasa Ramadhan maupun puasa sunat, dimakruhkan karena kondisi orang yang melakukannya.

Sekiranya, puasa mereka tetap dilakukan aka nada bahaya tertentu yang memperberat kondisi mereka. Artinya, jika kondisi itu terjadi, maka puasa tetap kepada hukum asalnya.

Share this post